Jumat, 22 Oktober 2010


Jenis-Jenis Format File Audio
Secara umum, ada 3 kelompok utama format file audio :
1.Format file audio tanpa kompresi,seperti file WAV, AIFF, AU dan raw header-less PCM.
2.Format file audio dengan kompresi lossy, seperti MP3, Vorbis, Mousepack, AAC, ATRAC, dan lossy Windows Media Audio (WMA).
3.Format file audio dengan kompresi lossless, seperti FLAC, Monkey’s Audio (filename extension APE), WavPack(filename extension WV), Shorten, Tom’s lossless Audio Kompressor(TAK), TTA, ATRAC Advanced Lossless, Apple Lossless, MPEG-4 SLS, MPEG-4 ALS, MPEG-4 DST, Windows Media Audio Lossless(WMA Lossless).
Dari format-format tersebut, terbagi menjadi 3 bagian, yaitu free dan open, free, dan proprietary.
Free dan open : wav, ogg, mpc, flac, aiff, raw, au, dan midi
Free : gsm, dct, vox, aac, mp4, dan mmf
Proprietary : mp3, wma, atrac, ra, ram, dss, msv, dvf, m4p, 3gp, amr, dan awb
A. Format CD
Ekstensi : .cda
File dengan ekstensi .cda merupakan representasi dari track CD-audio. File dengan format .cda dapat langsung dijalankan melalui CD-ROM, sementara filenya sendiri tidak mempunyai informasi kode modulasi apapun sehingga jika dikopi ke dalam harddisk, file tersebut menjadi tidak dapat di-play. Pada November 1984, dua tahun setelah CD diproduksi secara missal, Sony mengeluarkan Discman sebagai media pemutar portable. Agar dapat mengambil/mengkopi file audio dari CD-Audio, dibutuhkan software khusus atau ripping untuk mengubah dari format .cda menjadi format lain yang dapat disimpan di computer.
B. Format Advanced Audio Coding (AAC)
Ekstensi : .m4a, .m4b, .m4p, .m4v, .m4r, .3gp, .mp4, .aac
AAC merupakan format audio menggunakan lossy compression (data hasil kompresi tidak bisa dikembalikan lagi ke data sebelum dikompres secara sempurna, karena ada data yang hilang).
Cara kerja AAC :
  • Bagian-bagian sinyal yang tidak relevan dibuang
  • Menghilangkan bagian-bagian sinyal yang redundan
  • Dilakukan proses MDCT (Modified Discret Cosine Transform) berdasarkan tingkat kompleksitas sinyal
  • Adanya penambahan Internal Error Connection
  • Kemudian sinyal disimpan atau dipancarkan
Saat ini, AAC merupakan standar format untuk telepon selular seperti Apple’s iPhone, Sony Ericsson, N-series, dan model S40 dari Nokia, serta telepon sel berbasis Android. Juga perangkat portable seperti iPod, iTunes, Sony Playstation Portable, generasi terbaru dari Walkman Sony, semua jenis telepon Nintendo’s Wii, Nintendo DSi, mendukung format AAC. Kepopuleran format ini dikarenakan audio codec-nya yang menyempurnakan MP3, seperti pada jangkauan sample rate yang lebih banyak (8 Hz-96 kHz), memiliki 48 channerl, dan suara yang lebih bagus untuk bit yang lebih rendah (di bawah 16 Hz).
Portable player untuk format file AAC adalah Archos, Creative Zen Portable, Microsoft Zune, SanDisk Sansa, Sony Playstation Portable (PSP), Sony Walkman, Nintendo DSi, dan Cowon.
C. Format Waveform Audio (WAV)

Ekstensi : .wav atau .wv

WAV merupakan format file audio yang dikembangkan oleh Microsoft dan IBM sebagai standar untuk menyimpan file audio pada PC, dengan menggunakan coding PCM (Pulse Code Modulation). Tidak seperti AAV, file WAV adalah file audio yang tidak terkompres sehingga seluruh sampel audio disimpan semuanya di media penyimpanan dalam bentuk digital. Karena ukurannya yang besar, file WAV jarang digunakan sebagai file audio di Internet.

D. Format Audio Interchange File Format (AIFF)

Ekstensi : .aiff, .aif, .aifc

File AIFF merupakan format file audio standar yang digunakan untuk menyimpan data suara untuk PC dan perangkat audio elektronik lainnya, yang dikembangkan oleh Apple pada tahun 1988. Standar dari file AIFF adalah uncomressed code pulse-modulation (PCM), namun juga ada varian terkompresi yang dikenal sebagai AIFF AIFF-C atau aifc, dengan berbagai kompresi codec.

E. Format MPEG Audio Layer 3 (MP3)

Ekstensi : .mp3
Pada awalnya, format MP3 ini dikembangkan oleh seorang Jerman bernama Karlheinz Brandenburg, memakai pengodean Pulse Code Modulation (PCM). Prinsip yang dipergunakan oleh MP3 adalah mengurangi jumlah bit yang diperlukan dengan menggunakan model psychoacoustic untuk menghilangkan komponen-komponen suara yang tidak terdengar oleh manusia – sehingga adapat digolongkan file audio dengan kompresi lossy.
Pada tahun 1991, file MP3 distandarisasi dan tahun 1994 hingga akhir tahun 2000, popularitas dari MP3 semakin meningkat dengan semakin mudahnya akses Internet. Munculnya software untuk menjalankan file MP3 seperti Winamp di tahun 1997 yang dikembangkan oleh Nullsoft, dan player console untuk Linux, mp123, juga membuat file MP3 semakin digemari.
Beberapa batasan dari file MP3 ini adalah :
  • Bit rate terbatas, maksimum 320 kbit/s (beberapa encoder dapat menghasilkan bit rate yang lebih tinggi, tetapi sangat sedikit dukungan untuk mp3-mp3 tersebut yang memiliki bit rate tinggi).
  • Resolusi waktu yang digunakan mp3 dapat menjadi terlalu rendah untuk sinyal-sinyal suara yang sangat transient, sehingga dapat menyebabkan noise.
  • Resolusi frekuensi terbatasi oleh ukuran window yang panjang kecil, mengurangi efisiensi coding.
  • Tidak ada scale factor band untuk frekuensi di atas 15,5 atau 15,8 kHz.
  • Mode jointstereo dilakukan pada basis per frame.
  • Delay bagi encoder/decoder tidak didefinisikan, sehingga tidak ada dorongan untuk gapless playback (pemutaran audio tanpa gap). Tetapi, beberapa encoder seperti LAME, dapat menambahkan metadata tambahan yang memberikan informasi kepada MP3 player untuk mengatasi hal ini.
F. Format MIDI

Ekstensi : .mid

Merupakan standar yang dibuat oleh perusahaan alat-alat music elektronik berupa serangkaian spesifikasi agar berbagai instrument dapat berkomunikasi.
Dengan menggunakan format
MIDI, perangkat elektronik seperti keyboard dan computer dapat melakukan sinkronisasi satu sama lain.
Interface
MIDI terdiri dari 2 komponen yaitu :
  • Perangkat keras, merupakan hardware yang terhubung dengan peralatan (keyboar/computer)
  • Data format yang mengandung pengkodean informasi (spesifikasi instrument, awal/akhir nada, frekuensi dan volume suara).
G. Format Monkey’s Audio
Ekstensi : .ape, .apl
Merupakan format file audio dengan kompresi lossless sehingga tidak mengurangi kualitas suara. Umumnya, sebuah file audio dengan format Monkey’s Audio mempunyai ukuran lebih besar 3-5 kali dibandingkan dengan format MP3 (pada bitrate 192 Kb/s). Secara resmi, Monkey Audio hanya mendukung platform Windows, seperti yang ditulis di website resminya. Pada masa-masa mendatang, Monkey Audio akan mendukung untuk platform Linux dan Mac OS. Player yang dapat digunakan untuk menjalankan file format ini adalah Monkey’s Audio.

Senin, 15 Februari 2010

TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR

Teknik Pengambilan Gambar
Film merupakan hasil karya seni yang berasal dari perpaduan banyak unsur, seperti suara, gambar, dan gerak, dll. Pemerintah sendiri mendefinisikan film sebagai berikut : ”Film adalah karya cipta seni budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang dengar yang dibuat berdasarkan sinematografi dengan direkam pada pita selluloid, pita video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam bentuk, jenis, ukuran melalui kimiawi, proses elektronik atau proses lainnya atau tanpa suara yang dapt dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyek mekanik, elektronik dan atau lainnya (UU Perfilman th. 1992, Bab I, Pasal 1).”
Sebagaimana dijelaskan di dalam definisi tersebut film termasuk ke dalam golongan karya seni, dan dilihat dari urutannya film merupakan seni yang ketujuh di dalam jajaran seni-seni yang lain. Film agak berbeda dengan seni yang lain, karena film lahir dari gabungan unsur-unsur seni-seni yang lain yaitu seni sastra, teater, rupa, suara, musik, dan arsitektur, selain unsur-unsur seni tersebut di dalam film juga terkandung unsur teknologi.

Kamera merupakan salah satu aspek penting dalam suatu pembuatan film, fungsi kamera yaitu mengambil/merekam adegan-adegan yang diarahkan oleh sang sutradara kemudian divisualisasikan oleh pemain-pemain yang melakukan adegan-adegan. Kamera dioperasikan oleh kru film yang biasa disebut kameramen, kameramen mengoperasikan kamera sesuai dengan arahan sutradara. Untuk menjadi seorang kameramen harus mengetahui jenis-jenis kamera, mengenal cara-cara atau teknik memegang kamera, teknik pengambilan gambar, unsur-unsur dalam pengambilan gambar, dll.

Jenis kamera yang digunakan dalam film sangat beragam jenisnya, namun secara garis besar kamera terbagi tiga yaitu :

1. Kamera foto (still photography)
Kamera foto menghasilkan gambar-gambar yang tidak bergerak ( still single picture). Bahan baku penyimpanan gambar berasal dari pita selluloid, sehingga setelah melakukan perekaman harus diproses lagi dengan pemrosesan secara kimiawi. Contoh : kamera analog, kamera digital.
2. Kamera film (cinema photography)
Kamera film memiliki bahan yang sama dengan kamera foto namun hasil yang didapat berbeda, kamera film menghasilkan gambar yang bergerak atau biasa disebut still motion. Contoh : kamera 8 mm, 16 mm, 35 mm.
3. Kamera video (video photography)
Untuk kamera vide sendiri memiliki persamaan dengan kamera film karena menghasilkan gambar bergerak (still motion), namun yang membedakan yaitu bahan bakunya yang berupa kaset video yang setelah pengambilan gambar hasilnya dapat langsung dilihat karena terjadinya gambar secara optis dan elektronis. Contoh : kamera Betacam, MiniDV, HDCam.

Teknik-teknik yang terdapat pada pengambilan gambar sangat bervariasi, sehingga saat kita menonton suatu film tampak macam-macam sudut pandang pengambilan gambar yang merupakan hal penting dalam film. Penonton akan merasa jenuh apabila gambar yang disajikan terlihat monoton. Adapun teknik-teknik yang ada dalam pengambilan gambar yaitu :

1. Sudut pengambilan gambar (Camera Angle)
a. Bird Eye View
Pengambilan gambar dilakukan dari atas dari ketinggian tertentu sehingga memperlihatkan lingkungan yang sedemikian luas dengan benda-benda lain yang tampak dibawah sedemikian kecil. Pengambilan gambar biasanya menggunakan helikopter maupun dari gedung-gedung tinggi.
b. High Angle
Sudut pengambilan gambar tepat diatas objek, pengambilan gambar seperti ini memiliki arti yang dramatik yaitu kecil atau kerdil.
c. Low Angle
Pengambilan gambar diambil dari bawah si objek, sudut pengambilan gambar ini merupakan kebalikan dari high angle. Kesan yang ditimbulkan dari sudut pandang ini yaitu keagungan atau kejayaan.
d. Eye Level
Pengambilan gambar ini mengambil sudut sejajar dengan mata objek, tidak ada kesan dramatik tertentu yang didapat dari eye level ini, yang ada hanya memperlihatkan pandangan mata seseorang yang berdiri.
e. Frog Level
Sudut pengambilan gambar ini diambil sejajar dengan permukaan tempat objek berdiri, seolah-olah memperlihatkan objek menjadi sangat besar.

2. Ukuran gambar (frame size)
a. Extreem Close-up (ECU)
Pengambilan gambar sangat dekat sekali, hanya menampilkan bagian tertentu pada tubuh objek. Fungsinya untuk kedetailan suatu objek.
b. Big Close-up (BCU)
Pengambilan gambar hanya sebatas kepala hingga dagu objek. Fungsi untuk menonjolkan ekpresi yang dikeluarkan oleh objek.
c. Close-up (CU)
Ukuran gambar sebatas hanya dari ujung kepala hingga leher. Fungsi untuk memberi gambaran jelas terhadap objek.
d. Medium Close-up (MCU)
Gambar yang diambil sebatas dari ujung kepala hingga dada. Fungsinya untuk mepertegas profil seseorang sehingga penonton jelas.
e. Mid Shoot (MS)
Pengambilan gambar sebatas kepala hingga pinggang. Fungsinya memperlihatkan sosok objek secara jelas.
f. Knee Shoot (KS)
Pengambilan gambar sebatas kepala hingga lutut. Fungsinya hampir sama dengan Mid Shot.
g. Full Shoot (FS)
Pengambilan gambar penuh objek dari kepala hingga kaki. Fungsinya memperlihatkan objek beserta lingkungannya.
h. Long Shoot (LS)
Pengambilan gambar lebih luas dari pada Full Shoot. Fungsinya menunjukkan objek dengan latar belakangnya.
i. Extreem Long Shoot (ELS)
Pengambilan gambar melebihi Long Shoot, menampilkan lingkungan si objek secara utuh. Fungsinya menunjukkan bahwa objek tersebut bagian dari lingkungannya.
j. 1 Shoot
Pengambilan gambar satu objek. Fungsinya memperlihatkan seseorang/benda dalam frame.
k. 2 Shoot
pengambilan gambar dua objek. Fungsinya memperlihatkan adegan dua orang yang sedang berkomunikasi.
l. 3 shoot
pengambilan gambar tiga objek. Fungsinya memperlihatkan adegan tiga orang sedang mengobrol.
m. Group Shoot
Pengambilan gambar sekumpulan objek. Fungsinya memperlihatkan adegan sekelompok orang dalam melakukan suatu aktifitas.

3. Gerakan kamera (moving camera)
a. Zooming (In/Out)
Gerakan yang dilakukan oleh lensa kamera mendekat maupun menjauhkan objek, gerakan ini merupakan fasilitas yang disediakan oleh kamera video dan kameramen hanya mengoperasikannya saja.
b. Panning (Left/Right)
Yang dimaksud dengan gerakkan panning yaitu kamera bergerak dari tengah ke kanan atau dari tengah ke kiri, namun bukan kameranya yang bergerak tapi tripodnya yang bergerak sesuai arah yang diinginkan.
c. Tilting (Up/Down)
Gerakan tilting yaitu gerakan ke atas dan ke bawah, masih menggunakan tripod sebagai alat bantu agar hasil gambar yang didapat memuaskan dan stabil.
d. Dolly (In/Out)
Gerakan yang dilakukan yaitu gerakan maju mundur, hampir sama dengan gerakan Zooming namun pada dolly yang bergerak adalah tripod yang telah diberi roda dengan cara mendorong tripod maju ataupun menariknya mundur.
e. Follow
Pengambilan gambar dilakukan dengan cara mengikuti objek dalam bergerak searah.
f. Framing (In/Out)
Framing adalah gerakan yang dilakukan oleh objek untuk memasuki (in) atau keluar (out) framming shot.
g. Fading (In/Out)
Merupakan pergantian gambar secara perlahan-lahan. Apabila gambar baru masuk menggantikan gambar yang ada disebut fade in, sedangkan jika gambar yang ada perlahan-lahan menghilang dan digantikan gambar baru disebut fade out.
h. Crane Shoot.
Merupakan gerakan kamera yang dipasang pada alat bantu mesin beroda dan
bergerak sendiri bersama kameramen, baik mendekati maupun menjauhi objek.

4. Gerakan objek (moving object)
a. Kamera sejajar objek. Kamera sejajar mengikuti pergerakan objek, baik ke kiri maupun ke kanan.
b. Walking (In/Out) Objek bergerak mendekati (in) maupun menjauhi (out) kamera.

Setelah mengetahui teknik-teknik dalam pengambilan gambar, ada beberapa elemen penting yang harus ada di dalam gambar. Adapun elemen-elemen tersebut yaitu :
a. Motivasi
b. Informasi
c. Komposisi
d. Suara
e. Sudut Kamera
f. Kontinuitas

Selain teknik-teknik maupun tata cara pengambilan gambar yang harus dimiliki oleh seorang kameramen yaitu sense of art atau rasa seni, karena gambar yang diambil oleh kameramen merupakan karya seni. Setiap orang memungkinkan untuk menguasai teknik-teknik pengambilan gambar namun apabila tidak memiliki rasa seni atau keindahan maka hasil yang didapatpun kurang maksimal. Jadi rasa seni yang tinggi dapat dijadikan modal utama untuk menjadi kameramen. Gali terus potensi diri, selamat berkarya, bangun perfilman Indonesia menjadi lebih maju dan sukses.

Senin, 01 Februari 2010

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA
KOMPETENSI KEAHLIAN : 1. REKAYASA PERANGKAT LUNAK (070)
2. TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN (071)
3. MULTI MEDIA (072)

A. Dasar Kompetensi Kejuruan
STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR
1. Merakit personal computer
1.1 Merencanakan kebutuhan dan spesifikasi
1.2 Melakukan instalasi komponen PC
1.3 Melakukan keselamatan kerja dalam merakit komputer
1.4 Mengatur komponen PC menggunakan software (melalui setup BIOS dan aktifasi komponen sistem operasi)
1.5 Menyambung periferal menggunakan Software
1.6 Memeriksa hasil perakitan PC dan pemasangan periferal
2. Melakukan instalasi sistem operasi dasar
2.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi
2.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
2.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
2.4 Melakukan troubleshooting
3. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
3.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
3.2 Melaksanakan prosedur K3
3.3 Menerapkan konsep lingkungan hidup
3.4 Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan.

1. Multi Media (072)

STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
1. Memahami etimologi multimedia
1.1 Mendeskripsikan tentang multimedia
1.2 Menjelaskan multimedia content production
1.3 Menjelaskan multimedia communication
2. Memahami alir proses produksi produk multimedia
2.1 Menjelaskan proses pre production multimedia
2.2 Menjelaskan proses production multimedia
2.3 Menjelaskan proses post production multimedia
3. Merawat peralatan multimedia
3.1 Menjelaskan langkah-langkah perawatan peralatan multimedia
3.2 Melakukan perawatan peralatan multimedia
3.3 Membuat kartu perawatan peralatan multimedia
4. Mengelola isi halaman web
4.1 Memeriksa informasi untuk relevansi dan currency
4.2 Memeriksa links dan navigasi
4.3 Mengedit informasi sesuai kebutuhan
4.4 Menguji dan memastikan perubahan perubahan
5. Menerapkan teknik pengambilan gambar produksi
5.1 Menjelaskan prosedur pengoperasian kamera video
5.2 Mengoperasikan kamera video
5.3 Mengisi dan merawat battery selama pengambilan gambar
5.4 Mengoperasikan kamera
5.5 Menata kabel-kabel kamera
5.6 Mengoperasikan clapper board
6. Menerapkan prinsip-prinsip seni grafis dalam desain komunikasi visual untuk multimedia
6.1 Menjelaskan kaidah estetika dan etika seni grafis (nirmana)
6.2 Membuat sketsa
6.3 Menggambar perspektif
6.4 Menggambar objek
6.5 Menggambar ilustrasi
7. Menguasai cara menggambar kunci untuk animasi
7.1 Menjelaskan syarat animasi
7.2 Membuat gambar kunci
7.3 Mengatur dan melengkapi gambar kunci
8. Menguasai cara menggambar clean-up dan sisip
8.1 Mendeskripsikan gambar yang asli
8.2 Membuat gambar-gambar asli
8.3 Mendeskripsikan gambar tiga dimensi
8.4 Membuat gambar tiga dimensi
9. Menguasai dasar animasi stop-motion (bidang datar)
9.1 Mendeskripsikan syarat-syarat animasi
9.2 Membuat model warna dan tempat warna
10. Menggabungkan teks kedalam sajian multimedia
10.1 Menggunakan software teks multimedia
10.2 Mendesain teks multimedia
11. Menggabungkan gambar 2D kedalam sajian multimedia
11.1 Mengedit gambar digital
11.2 Menggunakan software grafik multimedia 2D
11.3 Menciptakan design grafik Multimedia 2D
11.4 Menampilkan karya seni digital 2D
12. Menggabungkan fotografi digital kedalam sajian multimedia
12.1 Menggunakan kamera digital
12.2 Menggabungkan foto digital ke dalam rangkaian multimedia
12.3 Menciptakan susunan karya seni foto digital dan grafik 2D
13. Menggabungkan audio ke dalam sajian multimedia
13.1 Menjabarkan format audio digital
13.2 Menggunakan software audio digital
13.3 Merancang audio digital
13.4 Membangun track audio digital
14. Membuat story board aplikasi multimedia
14.1 Mengidentifikasi kebutuhan
14.2 Merencanakan alur isi story board
14.3 Medeskripsikan proses pelaksanaan dalam story board
15. Memahami cara penggunaan peralatan tata cahaya
15.1 Menjelaskan dasar tata cahaya
15.2 Menjelaskan efek cahaya
15.3 Menyiapkan operasi lighting
16. Menerapkan efek khusus pada objek produksi
16.1 Mengidentifikasikan materi penunjang efek khusus
16.2 Menginstallasi software efek khusus
16.3 Membuat efek khusus pada obyek
17. Menyusun proposal penawaran
17.1 Menganalisa syarat-syarat proyek
17.2 Mengidentifikasi keterampilan yang sesuai dengan persyaratan laporan
17.3 Membuat rancangan biaya-biaya dan sumber-sumber yang ada
17.4 Membuat proposal
17.5 Membuat pengajuan permohonan tender.

Senin, 25 Januari 2010

KAMERA JVC GR-D350 AG

Menu yang terdapat dalam kamera JVC GR- D350 AG
1. Fokal length (min) 2.2-55.0 F stop 1.8-3.2
2. Auto macro
3. Filter diameter (mm)27
4. Auto iris
5. Shutter speeds 1/50 -1/4000
6. Full range AF/ Manual focus
7. Full- auto / manual white balance
8. Recording time (max) 120 min (*)
9. Auto dubbing
10. Web kamera function (via IEEE 1394)
11. Clear LCD Monitor yes ( 2.5“)
12. Colour view finder
13. Data bateray
14. Multi – language on screen -/2 – language
15. Digital colour night scope
16. Movable spotlight /backlight compesation
17.Power linked operation
18. Animation
19. Programme AE / Digital effect
20. Scene transition (wipes/ fades)
21. Play back digital zoom
22. DV input/Output (IEEE 1394 Compliant)
23. S- video output
24. AV output
25. Mic input (plug in power)
26. Dimenssions (W*H*D) 56*94*112 mm


Langkah memasukan kaset mini DV JVC GR-D350 AG
Buka tempat kaset (dengan cara menekan tombol yang ada dan secara bersamaan membuka tempat kaset ).
Tunggu sampai tempat kaset naik ke atas dan membuka secara otomatis.
Lalu masukka kaset sesuai dengan prosedur yang ada.
Tutup tempat kaset dan tunggu sampai kaset terpasang dengan otomatis.
Terakhir ditekan dan ditutup.

Zoom yang ada pada kamera JVC GR- D350AG
ZoomZoom pada JVC GR-D350 diposisikan di bagian atas kamera dan berfungsi sebagai kontrol geser yang akan mengarungi luasnya 32x optical zoom yang jangkauan. Kontrol zoom mampu menghasilkan baik diilhami kemalasan zoom lambat serta hampir-terlalu-cepat kecepatan. Transisi antara kedua kutub tingkat zoom agak sulit untuk menarik diri dengan: diperlukan beberapa kesabaran dan tetap tangan untuk bergerak dengan lancar tanpa gemuruh yang sangat besar melompat. Kontrol zoom ditempatkan dengan baik dan benar-benar nyaman, bahkan ketika digunakan dengan tangan yang lebih besar, yang akan membantu untuk mengimbangi beberapa masalah fungsionalitas.

Zoom Power / Ratio
Yang agak gila-gilaan tingkat zoom optik 32x membuat JVC GR-D350 bagus jika Anda, Äôve mendapat steadiest tangan di dunia dan Anda perlu memata-matai tetangga atau pasangan kecurangan. Bagi stabil tangan Anda tanpa harus menempatkan kamera pada tripod saat menggunakan tingkat zoom yang lebih tinggi. Jika tidak, mengharapkan gemetar dan tidak menyenangkan video hasil. Di samping 32x optical zoom, yang GR-D350 juga dilengkapi dengan zoom digital 800x rentang yang dapat terlibat dengan memasukkan Pengaturan Menu dan memilih sub-menu zoom. Zoom digital memiliki kisaran total 800x, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tapi untungnya memiliki tutup 64x, karena kualitas gambar berkurang ketika naik tingkat pembesaran.
Sebuah 32x zoom optik adalah yang terbesar dari setiap kamera kami telah meninjau. Gagal untuk memperoleh banyak kegembiraan, namun. Membesarkan besar adalah upgrade yang mudah bagi perusahaan untuk membuat dan tidak menambahkan banyak nilai sebuah kamera video.


Fokus
Kontrol manual fokus tersedia pada saat pengambilan gambar dengan JVC GR-D350. Tidak seperti kontrol manual seperti exposure, white balance, dan kecepatan rana, yang dikubur dalam-dalam menu, sangat mudah untuk mengakses. Untuk mengaktifkan kontrol manual, pengguna menekan panah pada empat arah pada LCD controller rongga. Setelah terbuka, kontrol minscule menampilkan simbol patung dan sebuah gunung. Menekan tombol panah kiri dan kanan akan menyesuaikan fokus dan menyebabkan muncul panah menunjuk ke arah simbol yang sesuai. Penempatan kontrol ini tidak bisa, AOT lebih buruk bagi pengguna, sejak tangan kiri, yang akan membuat penyesuaian pada empat cara kontrol, pasti akan memblokir sebagian besar LCD ketika perubahan. Sementara beberapa manuver dapat menghindari masalah ini akan lebih baik jika kontrol fokus diposisikan di tempat lain pada kamera, mungkin eksternal di belakang, sehingga pengguna dapat membuat penyesuaian dengan baik kontrol LCD atau jendela bidik.

Exposure (Aperture)
The JVC GR-D350 tidak termasuk kemampuan untuk mengendalikan tingkat eksposur secara manual melalui Fungsi Menu, yang diakses dengan menekan tombol menu pada LCD rongga di sisi kiri kamera. Kontrol pemaparan muncul sebagai opaque disalut bar horisontal pada bagian bawah layar LCD. Atas dan bawah panah dari empat cara controller sesuaikan pemaparan dari + / -6 dengan penambahan sebesar 1,0. Membuat penyesuaian ini melibatkan pergeseran dan pemindaian melalui beberapa struktur menu, sedangkan JVC kontrol di sini adalah sama seperti pada model tahun lalu, dan tidak memberikan kedekatan yang ditawarkan pada tahun 2006 Panasonic camcorder dalam kisaran harga yang sama. Sony, di sisi lain, tidak memberikan pemaparan kontrol sama sekali.




Shutter Speed
Pada saat pengambilan gambar dengan JVC GR-D350, mungkin manual kontrol kecepatan rana rana melalui sub-menu di Fungsi pengaturan rana kontrol manual off, 1 / 60, 1 / 100, 1 / 500, dan 1 / 4.000 detik, yang harus menyediakan cukup beragam pilihan menembak untuk kedua terang dan cahaya rendah menembak. Panasonic camcorder memiliki yang jauh lebih luas dari pilihan rana - 14 kecepatan total - sementara Sony, sekali lagi, tidak menawarkan kendali di daerah ini.

White Balance
Seperti halnya dengan kecepatan rana dan eksposur, sangat memungkinkan untuk mengontrol secara manual JVC GR-D350's white balance melalui fungsi menu. Pilihan di luar white balance mode otomatis penuh Fine, Cloud, dan penuh pengaturan Manual. Kontrol ini mencakup pandangan hidup layar mendasari yang memberikan pengguna dengan perangkat pemantauan visual untuk membalik-balik agak terpotong ini menu pilihan. Ini benar untuk hampir setara camcorder.Memperoleh kendali pada camcorder JVC terbatas untuk mengubah Auto Gain Control (AGC) dan mematikan. The AGC lebih kuat daripada keuntungan paling otomatis, dan dapat meniup gambar, jadi kita memberikan sebuah titik D350 termasuk pilihan untuk mematikannya. Ini bukan bernuansa dan jangkauan luas pilihan manual camcorder Panasonic ditemukan pada tahun ini, yang mengukur nilai keuntungan dalam dB.


Lain Manual Control
Tidak ada kontrol manual lain pada saat pengambilan gambar dengan JVC GR-D350, yang bukankah, AOT mengejutkan mengingat dengan MSRP sebesar $ 300. Jumlah kontrol manual camcorder ini harus menyediakan anggaran kontrol manual antusias dengan berbagai pilihan, meskipun tidak antarmuka yang terbaik.

Penanganan dan penggunaan
Kemudahan Penggunaan ( The GR-D350 adalah mudah digunakan camcorder berkat ditampilkan secara jelas mode Otomatis tombol terletak di sisi kiri atas. Mendorong tombol ini menempatkan seluruh kamera dalam modus auto, membebaskan para pengguna semua tugas tetapi menunjuk, zoom, dan memukul rekor. Mereka yang tertarik pada pengalaman yang lebih interaktif akan menghadapi beberapa masalah penanganan (lihat bagian Penanganan), sebagian besar berpusat sekitar empat-arah touchpad pada LCD rongga. Kontrol canggung ini bisa menjadi proses frustrasi.
Dalam garis anggaran camcorder, Sony masih mengambil kue untuk kemudahan penggunaan. Hampir semua produsen besar dapat membuat idiot-proof mode otomatis, jika menunjuk dan penembakan adalah Anda tertarik dengan pemula juga cenderung untuk mencari Sony touch screen lebih user-friendly, tapi kekurangan segera mulai untuk mengungkapkan diri mereka sendiri (sidik jari pada tampilan, tata letak menu yang panjang, dll). JVC memiliki menu sederhana yang digunakan untuk antarmuka; kami hanya berharap itu perangkat
navigasi yang lebih baik.
Penanganan Sementara GR-D350 adalah setara dengan low-end lainnya camcorder, ada beberapa perbedaan kecil. Tahun ini, Canon berusaha untuk memperbaiki penanganan oleh melangsingkan menuruni lebar camcorder mereka dan meningkatkan ketinggian. Ini adalah langkah pertama yang pergi bertentangan dengan apa yang paling tradisional "kompak" upaya camcorder: menurunnya tinggi dan meningkatkan
lebar. Untuk beberapa alasan, orang-orang tampaknya mengasosiasikan tubuh kecil pendek, gemuk, tapi desain Canon bekerja sangat baik dan JVC biasanya mengambil pendekatan yang sama. The D350, bagaimanapun, adalah tinggi dan lebar, atau setidaknya lebih luas daripada model ZR. Akibatnya, kamera merasa sedikit bulkier daripada perlu. Zoom toggle mungkin membuktikan menjadi peregangan untuk jari pendek, dan catatan on / off tombol, terjepit di antara baterai dan tombol mode, terlalu ramping untuk kenyamanan.
Aspek terburuk penanganan adalah empat cara touch pad terletak di sisi kiri tubuh dalam rongga LCD. Pertama-tama, menempatkan kontrol dalam rongga LCD berarti bahwa pengguna harus tetap LCD terbuka untuk melakukan perubahan, sehingga meningkatkan mengalir pada baterai. Kedua, ketika alat navigasi utama tersembunyi dalam rongga melibatkan kontrol manual Maha frustrasi. Jika empat-directional touch pad tidak menghadap Anda, sulit untuk menentukan di mana arah adalah menunjuk: mudah untuk membingungkan panah kiri dengan "maju" dan hak dengan "kembali." Akhirnya, touchpad sendiri terlalu kecil: yang "masukkan" tombol hanya dapat ditekan secara efektif dengan thumbnail. Semua orang tampaknya telah pindah ke sebuah joystick. Kami percaya sudah waktunya JVC melakukan hal yang sama.


Portabilitas
Berukuran 5,9 x 9,4 x 11.4 (W x H x L dalam cm), yang JVC GR-D359 bukan merupakan salah satu yang paling kompak portabel MiniDV camcorder. Ini jelas tidak ultra-kompak, dan akan mengalami kesulitan pas ke berukuran sedang dompet atau saku terbesar. Namun, D350 sepenuhnya mandiri, tidak seperti beberapa ultra-compacts yang membuai itu juga harus dilakukan.


LCD / Viewfinder (7,5)
2,5 inch LCD untuk JVC GR-D350 adalah di sisi kiri kamera dan dibuka dengan menarik di sepanjang tepi bagian belakang layar berdekatan dengan bagian bergigi bodi kamera. Sejak camcorder ini menggunakan tanaman dan zoom bukannya menembak dalam format 16:9 sejati, itu tidak mengherankan bahwa LCD layar lebar bukan layar. Tampilan sub-menu tidak memiliki fitur penyesuaian kecerahan LCD, dengan skala + / -5, tetapi harus digunakan dengan hati-hati. Pengaturan seperti kecepatan rana dan eksposur akan muncul berbeda jika LCD telah disesuaikan dengan preferensi pengguna. Karena kecerahan LCD bukan merupakan efek pada video yang direkam, maka dengan mudah mungkin untuk merekam video dengan eksposur
berbeda dan tingkat pencahayaan dari yang digambarkan pada LCD.
Warna jendela bidik elektronik tidak memberikan GR-D350 pemantauan sekunder pilihan. Bidik 0,33 inci ini dapat diperpanjang dari badan kamera. Namun, diperluas melampaui baterai yang menonjol ke belakang dan dikelilingi oleh sebuah bingkai plastik keras itu adalah sesuatu tetapi nyaman ketika ditekan ke mata. Masalah utama, selain kenyamanan, adalah bahwa menyalakan memerlukan jendela bidik LCD harus ditutup, sehingga menghalangi akses ke menu dan manual kontrol dalam rongga LCD. Sementara desain malang ini adalah konsumen Common camcorder, itu sangat kompromi fungsi fitur ini. Mereka yang tidak keberatan shooting di mode otomatis, atau membuat semua penyesuaian manual sebelum menutup LCD, akan menemukan bahwa menggunakan jendela bidik meningkatkan masa pakai baterai. Akhirnya, sebagian besar kontrol
penyesuaian dioptric terletak di bagian atas jendela bidik diperpanjang.


Battery Life
The D350 kapal dengan BN-VF707U baterai. Kita diuji untuk ketahanan baterai selama pengambilan gambar dengan menempatkan kamera dalam modus otomatis, meninggalkan LCD terbuka, dan modus bidikan di SP dengan stabilisasi gambar di. Ketika pita perlu diubah, kita melepas baterai, memasukkan daya DC, berubah kaset, dan reinserted baterai. Secara total, baterai berlangsung selama 112 menit dan 27 detik (1 jam, 52 menit, dan 27 detik) dari pengambilan gambar terus menerus.


Beberapa konektor yang terhubung pada kamera JVC GR- D350 AG
USB Mass strong class
AV input/output


Langkah membersihkan head kamera JVC GR- D350AG
Penyesuaian pada empat cara kontrol, pasti akan memblokir sebagian besar LCD ketika perubahan. Sementara beberapa manuver dapat menghindari masalah ini akan lebih baik jika kontrol fokus diposisikan di tempat lain pada kamera, mungkin eksternal di belakang, sehingga pengguna dapat membuat penyesuaian dengan baik kontrol LCD atau jendela bidik.

Kamis, 01 Oktober 2009

KAMERA CANON POWERSHOT A470

Kamera saku digital yang memliki fitur sederhana tetapi multifungsi, cocok digunakan untuk para fotografer pemula yang bergaya aktif dan dinamis, karena kamera ini sangat mudah digunakan. Tersedia beberapa pilihan warna.

KAMERA SAMSUNG ES55

ES55 hadir untuk memenuhi keinginan anda akan kamera digital yang mudah digunakan dengan aneka warna pilihan dan bodi alumunium. Dilengkapi dengan teknologi face detection, beauty shot dan intellegent LCD yang membuat anda tak ingin melepaskannya dari saku anda.